
......tentang teori foto story
by Feri Latief
Kemarin lusa saya berchating ria dengan teman saya yang kebetulan fotografer majalah khusus kaum pria . Lalu beliau pun mengundang saya untuk datang ke kantornya untuk minta masukan tentang rubrik baru yang ada di majalahnya yaitu rubrik foto esai, rubrik yang tak biasa untuk majalahnya. Beliau adalah penangung jawabnya. Ada pesan khusus darinya, "Silakan cacimaki kalo memang jelek".
Bingung juga saya diminta masukannya, padahal soal foto esai saya siapa sih?...lho kok bisa-bisanya beliau minta masukan pada saya? Padahal kurang apa teman saya ini, dia lulusan sekolah jurnalistik, pernah juga di Galeri Foto Jurnalistik ANTARA memperdalam fotojurnalistik di gembleng sama "Pandhita Agung" Oscar Matuloh, dan setiap hari motret pula untuk majalahnya....weleh...weleh...angin apa yang membuat saya jadi referensi untuk kritik fotonya.
Tanggal 12 Feb saya datang ke kantornya di bilangan Kebayoran Baru...ehem...ehem...ada model cantik berseliweran, maklum majalah khusus pria. Lalu teman saya menunjukan 2 edisi majalah hasil jepretannya. Alamak! Benar bung...saya harus caci maki nih....hi...hi...hi....
Memang kelihatannya mudah membuat foto stroy, kenyataannya nggak gitu...ada ilmunya...ada kiat-kiatnya. Belum lagi peruntukannya untuk apa? Majalah atau koran? Tentu beda juga editingnya. Bagaimana layout fotonya agar ceritanya bisa mengalir dan dimengerti pembaca tentu beda antara majalah dan koran.
Oh ya, kolom foto esai majalah itu sebenarnya tentang Foto Story (saya nggak menggunakan istilah foto esai, tapi foto story), tepatnya Portrait Story. Sebuah foto story tentang seorang pria dengan keunikan yang dia miliki dalam keahlian tertentu atau bidang kerja tertentu.
Kritik pertama saya adalah mungkin karena beliau terlalu sering motret model sehingga hampir semua foto yang dihasilkan adalah sebenarnya portrait seperti bikin model sesion. Dia nggak berani ngambil foto dengan kroping dan angle ala jurnalis, yang terkesan seenaknya tapi tetap punya cerita yang kuat tentang subyeknya. Sosok subyeknya dimasukan utuh-utuh ke dalam frame seperti motret model. Nggak berani ambil resiko.... Beliau hampir kehilangan angle jurnalisnya...karena nggak pernah diasah lagi ketika "terpenjara" harus motret model setiap hari.
Kedua dia benar-benar lupa bahwa dalam foto story ada yang namanya foto pembuka dan foto penutup (Establish shoot dan Ending). Dulu waktu saya dapat kesempatan diajar sama instruktur-instruktur para fotojurnalis londo selama 6 bulan mengikuti World Press Photo Courses ada standar yang dipakai acuan (walaupun batasan fotojurnalis berkembang terus) untuk membuat foto story. Sedikitnya ada 5 atau 6 hal yang "harus" ada dalam foto story :
1. Foto Pembuka, foto pembuka ini punya peran untuk membuka jalan bagi para pembaca kira-kira foto ini bercerita tentang apa? Foto ini seperti gerbang yang membawa masuk pembaca ke dalam foto story itu. Pilihlah foto yang paling kuat yang mewakili isi cerita.
2. Foto Penutup, foto ini sebagai penutup cerita. Kecuali mau dibikin ngegantung...terserah...tapi tetap saja perlu foto penutup.
3. Portrait sang subyek (close shoot)
4. Environment shoot....lingkungan sekitarnya...untuk memberi gambaran hubungan subyek dengan lingkungannya (long shoot)
5. Detail-detail shoot...untuk menceritakan lebih dalam lagi tentang sang subyek, cincin yag digunakan, kalung...otot..sorot, mata, tato, poster bang haji rhoma irama di kamar, dll...(close shoot)
6. Relation ship, hubungan subyek dengan orang lain atau benda lain...bisa dengan orang tua, pacar, senjata api, dlll
Selebihnya bisa foto-foto yang lain. Asal sudah menggambarkan ke 5 atau 6 hal yang ada di atas sudah bisa membangun sebuah cerita.
Sebagai contoh lihat foto story di koran seperti KOMPAS dan TEMPO, biasanya menggunakan 5 atau 6 foto.Untuk majalah karena halamannya lebih banyak maka bisa digunakan 12 foto (seperti batas jumlah yang ditentukan oleh World Press Photo). Lebih dari itu boleh saja, contohnya National Geographic, laporan utamanya biasanya terdiri dari 20 foto makanya foto-fotonya lebih bercerita. Juga majalah STERN Jerman, bagus seperti Nat Geo malah kalau di suruh memilih antara foto story majalah TIME atau STERN saya akan memilih STERN.
Nah, foto strory teman saya masih didominasi oleh Portrait, seperti membuat foto seorang model. Maka ceritanya pun nangung...nggak jelas.
Kedua, karena itu maka dia kesulitan menentukan foto pembuka dan penutup. Contohnya lihat foto yang saya lampirkan di atas, cerita tentang seorang DJ tapi foto pembukanya tidak memberi info awal bahwa dia seorang DJ. Foto pembukanya kok sang DJ sedang baca koran? Sebenarnya dia membuat foto sang DJ ketika sedang beraksi di Turn Tablenya dan dikeliling oleh para wanita di tengah gemerlap lampu disco...nice shoot. Sayangnya dijadikan foto penutup. Saya bilang ke beliau, mungkin saya akan pilih foto ini jadi foto pembuka dan foto penutup (jika dia membuatnya) ketika sang DJ kembali ke apartemennya atau ke kamarnya sambil menggangeng seorang cewek....silakan pembaca menerka-nerka. Nggak perlu jelas ceweknya siapa...simbolik aja sekedar tangannya, pinggulnya, atau sepatu hak tingginya keitka melangkah ke kamar sang DJ....tahu dong kehidupan DJ banyak digemari wanita...hii....hi...hiiii
Ketiga, tidak banyak stock foto detail, environtment, relationship maka ketika dituangkan ke layout jadi monoton.
Keempat, dia memilih hanya foto-foto yang bagus saja...padahal dalam foto story kadang kita memerlukan foto yang mungkin secara teknis tidak bagus tapi memiliki informasi yang bagus, sehingga menjadi foto penyambung yang menghubungkan adegan satu dengan adegan yang lain. Foto story itu perlu rangkain cerita yang diwakili tiap fotonya. Dalam foto story yang beliau buat foto yang satu dengan yang lainnya suka nggak nyambung.
Kelima, tidak banyak fase kehiduapan sang subyek yg di shoot. Padahal saya bilang kepadanya foto sang DJ sedang mengelus anjing itu bagus....menggambarkan sisi lain diri sang DJ...juga yang sedang bermain bass. Memang bukan foto yang bagus secara teknis tapi punya tautan cerita yang kuat. Semakin banyak fase yang bisa didokumentasikan semakin kaya ceritanya, membuat foto storynya semakin bagus.
Beliau beralasan karena waktu yg diberikan boss hanya satu hari untuk memotretnya sehingga fase-fasenya sedikit. Dan cerita harus disusun berdasarkan kronologisnya makanya banyak foto yang ceritanya nggak nyambung. Saya membenarkan argumennya pertama, karena memang betul semakin lama kita membuang waktu bersama subyeknya semakin dalam kita mendapat cerita. Karena setiap orang punya kecenderungan "Jaga Image" kalau baru pertama kali bertemu, seperti kata Andi Warhol. Jadi agak repot kalau mau menggali sisi terdalamnya.
Tapi untuk argumen kedua saya nggak setuju, nggak penting kronologis kalau ingin menceritakan tentang sosok seseorang, inikan bukan soal jalannya peristiwa. Alur kronologis bisa dibolak-balik yang penting bisa menceritakan siapa sesungguhnya yang kita tampilkan itu.
Dia manggut-manngut membenarkan, dia bilang nanti beliau sendiri yang akan mengatur waktu untuk pendekatan kepada subyeknya bukan boss lagi yang menentukan. Untuk satu edisi ke depan saya janji akan membantu proses editing fotonya (dalam fotojurnalis yang disebut editing adalah proses foto pemilihan sampai final cutnya). Mana yang layak edit mana yang tidak...kropingnya sampai sejauhmana dsb...
Pertemuan diakhiri dengan seruputan kopi pahit dan beliau menghadiahkan 3 bundel edisi majalahnya kepada saya. Lumayan la yau......
PS.
- Nanti kita lihat edisi selanjutnya...lebih baik atau tidak....kalau malah tambah jelek...mati deh gue...hua...ha...haaa...gara-gara gue tuh konsultannya ....gedubrag!